GAMBARAN KEKERASAN DOMESTIK OLEH SUAMI TERHADAP ISTRI DI PENGUNGSIAN BENCANA GEMPA BUMI & TANAH LONGSOR DI KABUPATEN AGAM, SUMATRA BARAT

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kondisi georafis menyebabkan Indonesia sebagai salah satu negara yang rawan bencana. Gempa bumi selalu silih berganti terjadi di wilayah Indonesia. Pada tanggal 30 September 2009, gempa bumi berkekuatan 7,6 SR kembali terjadi di Provinsi Sumatra Barat (Padang). Dampak gempa ini menyebabkan longsornya sejumlah perbukitan di Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Di kabupaten ini dilaporkan 80 meninggal, 90 luka berat, 47 luka ringan, 12.634 unit rumah rusak berat, 3.653 rusak sedang, 2.862 rusak ringan dan 1.000 orang mengungsi (www.antara-sumbar.com)

Daerah terparah di Selingkar Danau Maninjau (Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam). Sebagian besar warga mengungsi karena rumah rusak berat dan terseret ke danau. Titik-titik  pengungsian berada di Pasar Sungai Batang, Lapangan Sepak Bola Sungai Tampang dan Lapangan Sepak Bola Muko-Muko. Penyintas yang mengungsi yaitu warga dusun Padan, Bala Puang, Batu Mangga, Jorong Muko Jalan, Singiran, Tampang. Dusun tersebut berada di Kecamatan Tanjung raya, Agam (www.antara-sumbar.com)

Bencana Gempa bumi dan tanah longsor berkaitan dengan kehilangan yang signifikan, kehilangan nyawa dan luka-luka, rusak/hilangnya sumber kehidupan (rumah, makanan, air, pakaian, mata pencaharian) dan dampak lanjut mengakibatkan gangguan psikologis (Gist & Lubis, 1999).

Salah satu dampak dari bencana yaitu hilangnya sumber kehidupan. Hal ini merupakan pemicu stres khususnya bagi kepala keluarga, karena memikirkan bagaimana caranya mendapatkan pekerjaan untuk membangun rumah, membeli perabotan dan membiayai semua kebutuhan keluarga dan pendidikan. Kondisi ini munculnya perilaku-perilaku negatif yang bisa berdampak kekerasan pada istri. Lembaga Pulih melaporkan bahwa penyintas laki-laki yang tinggal di pengungsian bersifat agresif yang menyebabkan terjadinya kekerasan domestik. Ini disebabkan karena keadaan tempat pengungsian dan keadaan ekonomi.

UNHCR (2004) dalam laporannya “Sexual and Gender Based Violence in Selected Locations in Sri Lanka” penelitian di 12 titik daerah di Srilangka membuktikan bahwa terjadi kekerasan seksual dan gender, khususnya kekerasan domestik (80%). Kerusakan intrastruktur dan kurang efektifnya monitoring dan perlindungan pasca tsunami meningkatkan kerawanan kekerasan ini. Kekerasan domestik dialami pengungsi Aceh, lebih dari setengahnya berupa kekerasan seksual, yaitu penelantaran & perampasan, membatasi gerak istri, kawin paksa, kawin cina buta, cerai gantung, tolak cerai dan poligami (Samsidar, 2006). Kondisi sulit di pengungsian memiliki dampak marjinalisasi berulang terhadap perempuan dan anak-anak (Yentriyani, A., 2007).

Priyono (2005) melaporkan bahwa dari 80 kasus kekerasan domestik di pengungsian Tsunami Aceh, sebagai pelaku terbanyak adalah suami. Kekerasan domestik sering dilakukan dalam bentuk kekerasan seksual (44 kasus), kekerasan ekonomi dalam bentuk penelantaran dan pemerasan (37 kasus) dan kekerasan psikologis (44 kasus). Akibat kekerasan tersebut berdampak pada penderitaan psikis (43,4%), dampak fisik (21,5), dampak ekonomi (15,3%) dan dampak seksual (15,1%) serta dampak sosial.

Di banyak penelitian menyatakan bahwa gender sebagai dasar terjadinya kekerasan domestik (Dwyer et al, 1996). Budaya dan kontruksi sosial merupakan salah satu pemicu terbesar terjadinya kekerasan domestik (Dietrich A.M., 2007). Peran gender akan memberikan efek yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan sebelum, ketika daan setelah bencana terjadi. Hampir dipastikan laki-laki memiliki peluang besar sebagai kunci penyelamatan, sebaliknya perempuan yang berada di wilayah domestik lebih rentan menjadi korban. Secara signifikan, situasi sosial, politik, ekonomi, maupun budaya di benlahan dunia menunjukkan tanda- tanda yang makin agresif dan membahayakan perempuan (Women in Disaster Seminar, 1998).

Masyarakat Minangkabau yang menganut sistem matrilineal yang memberikan peran yang penting bagi perempuan tidak hanya sebagai sumber dari keturunan, finansial, kebijakan, kekuatan, keindahan, kemegahan dan masa depan. Dengan menguasai basis ekonomi, fisik, budaya dengan ‘matrilineal-nya”, perempuan Minangkabau relatif memiliki akses penguasaan dan kemampuan pemanfaatan ekomomis yang tinggi & mandiri dibandingkan dengan laki-laki (Khaidir, 2005).

Kabupaten Agam yang mengalami longsor parah sehingga banyak warga yang mengungsi dan dikaitkan dengan dampak bencana, peran gender serta adat dan budaya “matrilineal” yang tentunya akan memberikan kontribusi terhadap terjadinya kekerasan domestik oleh suami terhadap istri di pengungsian. Penelitian ini mencoba melakukan studi kualiatif untuk menelaah lebih mendalam kejadian kekerasan tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaimana persepsi istri terhadap kekerasan domestik yang dilakukan oleh suami di pengungsian bencana?
  2. Bagaimanakah pengaruh dampak bencana, adat & budaya Minangkabau serta peran gender terhadap intensitas kekerasan domestik di pengungsian?
  3. Bagaimanakah strategi coping pada istri yang mengalami kekerasan domestik oleh suami di pengungsian?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kekerasan domestik oleh suami terhadap istri di pengungsian meliputi persepsi istri terhadap kekerasan, pengaruh dampak bencana, adat & budaya Minangkabau serta peran gender terhadap intensitas kekerasan dan strategi coping yang digunakan.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai gambaran kekerasan domestik yang terjadi di pengungsian, dengan gambaran tersebut, diharapkan perempuan yang memiliki permasalahan serupa dapat memahaminya dan mengerti bagaimana harus bertindak, serta dapat dijadikan bahan rekomendasi bagi pihak-pihak yang berwenang serta yang memiliki perhatian terhadap perempuan yang mengalami kekerasan.

1.5 Isu Etis

Masalah dalam keluarga merupakan hal yang sensitif jika dibicarakan ke publik. Demikian juga ketika ada perselisihan dan kekerasan oleh suami terhadap istri. Banyak istri beranggapan bahwa hal itu merupakan aib keluarga dan tidak pantas untuk diceritakan ke orang lain. Di satu sisi, masyarakat sekitar merasa sungkan untuk menegur karena beranggapan bahwa hal itu merupakan urusan pribadi rumah tangga. Peran budaya dan kontruksi sosial yang terbentuk melegalkan suami untuk mengontrol dan menguasai istri. Sehingga banyak kasus kekerasan domestik tidak terungkap.

1.6 Cakupan Penelitian

Penelitian ini membatasi pada kekerasan domestik yang dilakukan oleh suami terhadap istri di pengungsian bencana.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bencana dan Dampaknya

Dalam buku Methods for Disaster Mental Health Research, bencana didefinisikan sebagai peristiwa yang berpotensi menimbulkan kejadian-kejadian traumatik yang dialami secara kolektif, terjadi secara akut, dan tidak terbatas waktu; bencana mungkin dapat disebabkan faktor alam, teknologi, atau yang disebabkan oleh manusia (Norris, Galea, Friedman, & Watson, 2006).

Dampak umum bencana meliputi kehilangan jiwa, luka-luka, kerusakan infrastruktur, kerusakan kehidupan dan hasil panen, gangguan produksi, gangguan kehidupan sehari-hari, kehilangan keluarga, gangguan dalam pelayanan umum, kerusakan infrastruktur secara nasional dan gangguan dalam sistem pemerintahan, penurunan ekonomi nasional, dampak sosiologis dan psikologis (Carter, 1991).

Penelitian-penelitian menemukan bahwa korban bencana mengalami gangguan psikologis dari level sedang sampai tinggi dan membutuhkan waktu yang lama dalam proses penyembuhan (Yates, 1992). Beberapa hari setelah bencana, korban sering merasa bingung, tidak percaya, mati rasa, takut dan fase selanjutnya akan memiliki pikiran-pikiran yang mengganggu mengenai bencana (intrusion)  dikaitkan dengan hyper arousal (Haqqi, 2006).

2.2 Pengungsi Internal (Internally Displacement Persons/IDPs)

Berdasarkan hasil Lokakarya tentang Prinsip-Prinsip Panduan bagi Pengungsi Internal (2005), hal pokok mengenai definisi, pertama: pengungsi internal (IDPs) yaitu orang-orang yang terpaksa meninggalkan rumah-rumah mereka atau komunitasnya secara tidak sukarela, dikarenakan keadaan atau kejadian yang tiada pilihan lain kecuali pindah. Kedua: pengungsian internal terjadi masih dalam batas wilayah negaranya sendiri.

Dalam Ensiklopedia Indonesia pengungsi adalah seseorang atau sekelompok orang yang meninggalkan suatu wilayah guna menghindari suatu bencana atau musibah. Bencana ini dapat berbentuk banjir, tanah longsor, tsunami, kebakaran, dan lain sebagainya yang diakibatkan oleh alam. Dapat pula bencana yang diakibatkan oleh ulah manusia secara langsung. Misalnya perang, kebocoran nuklir dan ledakan bom.

Berdasarkan Konvensi tahun 1951 di Jenewa, United Nation High Commissioner for Refugees (UNHCR), definisi pengungsi internal (IDPs) adalah pengungsi yang keluar dari wilayah tertentu dan menempati wilayah lain tetapi masih dalam satu daerah kekuasaaan satu negara. Pengungsi internal biasanya merupakan penduduk migran terpaksa akibat konflik bersenjata atau akibat dari situasi-situasi rawan lainnya (seperti tindak kekerasan, bencana alam, bencana akibat ulah manusia) yang tidak melintasi perbatasan negaranya.

2.3 Kekerasan Domestik dan Dampaknya

Kekerasan dalam rumah tangga (kekerasan domestik) adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (UU RI No.23 Pasal 1 Ayat 1). Adapun yang termasuk lingkup rumah tangga adalah suami, istri, dan anak. Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga yang menetap dalam rumah tangga dan atau orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut.

Dampak traumatis dari kekerasan domestik yang dialami perempuan dan remaja meliputi depresi, gangguan kecemasan (PTSD), gangguan penyalahgunaan zat (substance disorders), gangguan disasosiasi, gangguan somatis, luka fisik secara langsung (Schnurr & Green, 2004). Individu yang mengalami atau menyaksikan kejadian traumatis yang parah, akan mengalami kumpulan gejala-gejala gangguan distress, yang berkaitan dengan Post-traumatic Stress Disorder (PTSD). Gejala-gejala PTSD meliputi: (a) Reexperiencing symptoms seperti intrusive (memori-memori yang menganggu tentang kejadian traumatis), mimpi buruk, dan flashback; (b) avoidance (penghindaran) dan mati rasa, seperti menghindari untuk tidak memikirkan kejadian tersebut, emosional dan menjauh dari orang lain; (c) Gejala hiperarousal meliputi ketakutan, sensitif, problem konsentrasi dan menghindar (DSM-IV-TR).

Poerwandari (2006), menyebutkan bahwa dampak psikologis korban kekerasan domestik dan seksual adalah tertekan (karena memendam perasaannya), binggung, shock atas apa yang terjadi, malu, khawatir, takut, tidak berdaya, menyesal, membenci diri sendiri dan menunjukkan tanda-tanda depresi.

Stark & Flitcraft (1996) menyebutkan bahwa kekerasan terhadap perempuan diikuti oleh meningkatnya risiko terhadap penggunaan alkohol, obat-obatan terlarang, usaha bunuh diri, masalah-masalah kesehatan dan kesehatan mental. Strauss & Gelles (1999) menyatakan perempuan yang mengalami kekerasan melaporkan kondisi kesehatannya memburuk tiga kali lebih sering, merasakan sakit kepala dua kali lipat, mengalami depresi empat kali lebih sering dan mencoba untuk bunuh diri lima setengah kali lebih sering dibandingkan dengan perempuan yang tidak mengalami kekerasan.

2.4 Budaya, Adat dan Kehidupan Sosial Masyarakat Minangkabau

Bercermin pada pepatah “Adat Basandi Syara, Syara Basandi Kitabullah”, mengandung makna bahwa adat kebiasaan di Minang berdiri sendiri di atas sendi-sendi aturan agama (religiusitas). Hematnya, jika adat pada suatu kasus tidak mampu menjawab sebuah fenomena maka rujukan berikutnya mengunakan aturan agama. Ajaran Islam yang menempatkan perempuan dalam posisi yang khusus dan terhormat, maka adat Minang juga memberikan tempat yang spesifik dalam masyarakat dan kulturnya (Khaidir, A., 2005).

Filosofi adat Minang memberikan kedudukan ekonomis yang sangat kokoh pada perempuan. Hal ini disebabkan karena sistem pewarisan (harato pusako) berupa sawah, tanah, dan rumah kepada anak perempuan. Sementara anak laki-laki mendapatkan tuah/kehormatan dalam bentuk gelar adat (sako) dan kewenangan untuk mengatur anak kemenakan. Fatmariza dkk. (2003) menyimpulkan bahwa perempuan yang sudah menikah akan tetap tinggal di rumah ibunya (rumah gadang), jadi menganut sistem keluarga luas (extended family). Perempuan mendapat kepercayaan untuk mengatur rumah tangga (pemimpin rumah Gadang). Beberapa ahli berfikir bahwa adat inilah yang mendasari kaum laki-laki untuk meninggalkan rumah dan mencari ilmu agama dan adat ke surau dan selanjutnya merantau untuk mencari ilmu pengetahuan dan pengalaman sebagai bekal untuk bertanggungjawab kepada keluarga dan membangun nagari (www.semilicity.blogspot.com)

Minangkabau dikenal masyarakat yang sangat egaliter dan demokratis. Keputusan mengenai masalah-masalah dalam keluarga besar dan masyarakat Minangkabau diambil melalui musyawarah (mupakaik), yang melibatkan semua pihak, perempuan, laki-laki, tua dan muda. Masyarakat Minangkabau tidak mengenal tingkatan (hirarki), dengan pepatah “duduk sama rendah berdiri sama tinggi”. Ini berarti bahwa seluruh manusia berada pada tingkatan yang sama, tidak ada budak dan penguasa. Masyarakat Minangkabau juga tidak mengenal budaya kekerasan dan perang. (www.semilicity.blogspot.com)

2.5 Peran Gender dalam Kehidupan Masyarakat Minangkabau

Peran gender menurut beberapa ahli (Stevenson, 1994) dapat dirumuskan sebagai peran yang mencakup sejumlah karakteristik psikologis dan perilaku yang telah ditentukan dan diharapkan dari seseorang menurut jenias kelaminnya, berdasarkan harapan budaya dan sosialnya. Pada peran gender yang tradisional seseorang perempuan diharapkan bertingkah laku sesuai ciri-ciri feminitas dan seorang laki-laki bertingkah laku sesuai ciri-ciri maskulinitas sebagai mana diharapkan oleh kultur dan masyarakatnya.

Urger (1992) mengatakan bahwa peran gender adalah norma-norma mengenai tingkah laku yang diterima bagi perempuan dan laki-laki, misalnya tingkah laku menangis lebih dapat diterima bila dilakukan oleh perempuan daripada laki-laki.

Meskipun sistem kekerabatan Minangkabau adalah matrilineal, yaitu suatu sistem kekerabatan dimana perempuan merupakan penentu dari penghitungan garis keturunan, tetapi hal itu tidak serta merta juga menentukan penentuan kebijakan publik masyarakat. Menurut Syarizal (dalam Surur, 2009) menyatakan bahwa posisi perempuan dalam masyarakat matrilineal Minangkabau terbilang unik karena terdapat perbedaan tajam antara struktur sosial dan ekonomi.

Dalam kehidupan ekonomi, perempuan Minangkabau sangat terkenal sebagai perempuan pekerja keras sehingga tidak tergantung pada laki-laki. Tetapi dalam struktur sosial perempuan lebih banyak berada pada ranah domestik dimana pembuatan keputusan secara publik banyak didominasi oleh laki-laki yang berwujud, baik dalam ninik mamak maupun datuk pemimpin kaum.

2.6 Strategi Coping

Strategi coping menunjuk pada berbagai upaya, baik mental maupun perilaku, untuk menguasai, mentoleransi, mengurangi, atau minimalisasikan suatu situasi atau kejadian yang penuh tekanan. Dengan perkataan lain strategi coping merupakan suatu proses dimana individu berusaha untuk menanggani dan menguasai situasi stres yang menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya (http://fachrister.blogdetik.com/strategi-coping/)

Para ahli menggolongkan dua strategi coping yang biasanya digunakan oleh individu, yaitu: problem-solving focused coping, dimana individu secara aktif mencari penyelesaian dari masalah untuk menghilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan stres; dan emotion-focused coping, dimana individu melibatkan usaha-usaha untuk mengatur emosinya dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan diitmbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan.  Hasil penelitian membuktikan bahwa individu menggunakan kedua cara tersebut untuk mengatasi berbagai masalah yang menekan dalam berbagai ruang lingkup kehidupan sehari-hari (Lazarus & Folkman, 1984). Faktor yang menentukan strategi mana yang paling banyak atau sering digunakan sangat tergantung pada kepribadian seseorang dan sejauhmana tingkat stres dari suatu kondisi atau masalah yang dialaminya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi strategi coping individu yaitu kesehatan fisik, keyakinan atau pandangan positif, ketrampilan memecahkan masalah, ketrampilan sosial, dukungan sosial dan materi ((http://fachrister.blogdetik.com/strategi-coping/

BAB III

METODOLOGI  PENELITIAN


3.1 Metode  Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Penelitian ini menekankan pada interpretasi individu yang bertujuan untuk memperoleh makna dari individu sedalam-dalamnya. Menurut Kerlinger (1992), pendekatan kualitatif ini merupakan satu-satunya pendekatan yang sesuai untuk kajian eksplorasi mendalam.

3.2 Subjek Penelitian

3.2.1 Teknik Pemilihan

Subjek dipilih berdasarkan teknik pengambilan sample Purposive Sampling (non-probability sampling) yaitu sampel yang karakteristiknya sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian yang sengaja dipilih (Kerlinger, 1992).

Menurut Strauss dan Corbin (dalam Poerwandari, 1998), kekuatan dari purposive sampling terletak pada seleksi kasus yang kaya informasi untuk penelitian yang mendalam. Dengan kasus yang kaya akan informasi bisa didapatkan sejumlah besar informasi penting yang sesuai dengan tujuan penelitian.

3.2.2 Jumlah Subjek

Penelitian kualitatif tidak menekankan pada generalisasi, melainkan berupaya memahami sudut pandang serta konteks partisipan secara kaya dan mendalam. Jadi partisipan bisa berubah baik dalam hal jumlah maupun karakteristik sampelnya sesuai dengan pemahaman konseptual yang berkembang dalam penelitian dan kecocokan konteks (Poerwandari, 2009).

Menurut Willig (2001), jika penelitian ini merupakan studi kasus (case study), baik secara individu, kelompok dan organisasi, maka representatif tidak penting.

3.2.3 Karakteristik Subjek

Karakteristik umum subjek penelitian sebagai berikut:

  1. Perempuan dewasa yang telah menikah,
  2. Merupakan penduduk asli Sumatra Barat atau sudah menetap lama (sejak lahir) di Sumatra Barat.
  3. Tinggal di pengungsian bersama dengan suami minimal 1 bulan, diperkirakan intensitas kekerasan sudah bisa dirasakan atau terlihat.
  4. Mengalami tindak kekerasan fisik oleh suaminya, dengan asumsi bahwa kekerasan fisik adalah kekerasan paling parah, sehingga ketika subjek mengalami kekerasan fisik berarti ia juga telah mengalami kekerasan psikologis dan seksual dari suaminya. Dan ini merupakan stressor yang paling berat.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap, terperinci serta bermakna, peneliti akan mengunakan wawancara mendalam dan observasi. Berikut diuraikan masing-masing teknik pengumpulan data:

3.3.1 Wawancara

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam (in-depth interview) untuk mendapatkan gambaran lebih lanjut, lebih jelas dan lebih bermakna mengenai kekerasan domestik di pengungsian. Menurut Kerlinger (1992) wawancara mendalam didefinisikan sebagai peran antar pribadi bertatap muka (face to face) ketika seseorang – yaitu pewawancara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk memperoleh jawaban-jawaban yang relevan dengan masalah penelitian, kepada seorang yang diwawancara.  Tujuannya untuk memahami perspektif responden dalam kaitannya dengan kehidupan, pengalaman dan situasi-situasi seperti yang terekspresikan di dalam kata-kata, ungkapan atau pernyataan mereka sendiri.

3.3.2 Observasi

Patton (dalam Poerwandari, 2009) menyatakan bahwa observasi merupakan metode pengumpul data esensial dalam penelitian apalagi dengan pendekatan kualitatif. Dengan melakukan observasi peneliti akan mendapatkan pemahaman lebih baik tentang konteks yang diteliti.

Observasi bertujuan untuk mendeskripkan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas dan makna kejadian dilihat dari mereka yang terlibat dalam kejadian yang diamati (Poerwandari, 2009). Hasil dari observasi akan dituliskan dalam bentuk catatan lapangan. Catatan lapangan berisi pengamatan peneliti mengenai hal-hal unik dari subjek serta bagaimana subjek berinteraksi dengan orang disekitarnya.

3.4 Instrumen Penelitian

3.4.1 Pedoman Wawancara

Dalam melakukan wawancara sangat dibutuhkan pedoman wawancara agar pertanyaan tidak terlalu menyebar. Pedoman ini digunakan untuk mengingatkan peneliti mengenai aspek-aspek yang harus dibahas, sekaligus menjadi daftar pengecek (checklist) apakah aspek-aspek relevan tesebut telah dibahas atau ditanyakan (Poerwandari, 2009).

3.4.2 Alat bantu

Poerwandari (1998), sedapat mungkin wawancara perlu direkam dan dibuat transkripnya secara verbatim (kata demi kata), maka untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini, digunakan alat perekam (tape recorder) sebagai alat bantu utama, agar data yang dikumpulkan melalui wawancara lebih mendetail dan dapat dibuat transkripnya secara verbatim.

3.5 Prosedur dan Pelaksanaan Pengumpulan Data

3.5.1 Tahap Persiapan

  1. Menyusun kuisoner untuk menentukan responden penelitian
  2. Membuat pedoman wawancara untuk mengali pengalaman responden secara mendalam berdasarkan teori-teori yang relevan dengan masalah.
  3. Mempersiapkan surat izin untuk pihak yang berwenang yang menangani pengungsian (bupati, kepala posko bencana) dan untuk significant others (orang-orang dekat) jika menanyakannya.
  4. Mempersiapkan alat bantu

3.5.2 Tahap Pelaksanaan

  1. Membagikan kuisoner kepada penyintas perempuan di pengungsian, selanjutnya menyeleksi responden sesuai dengan kriteria.
  2. Melakukan persetujuan dan kesepakatan dengan responden (penentuan kapan, dimana dan bagaimana wawancaranya)
  3. Melakukan wawancara mendalam dan merekam proses wawancara

3.6 Prosedur Pengolahan dan Analisis Data

Menurut Poerwandari (1998) pengolahan dan analisis data mengikuti langkah-langkah berikut:

  1. Organisasi data, merupakan langkah awal dari pengolahan dan analisis data, oleh karena itu data harus diorganisasikan dgn rapi, sistematis dan selengkap mungkin
  2. Koding, langkah praktis dan efektif untuk melakukan koding dalah menyusun transkrip verbatim, melakukan penomoran pada baris-baris transkrip dan atau catatan lapangan dan memberikan nama untuk masing-masing berkas dengan kode tertentu.
  3. Analisis, melakukan analisis dengan cara mengidentifikasikan kemungkinan tema-tema yang muncul kemudian dikaitkan dengan teori yang digunakan.

DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association.(1994). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (4th ed). Washington, DC: Author.

Carter,W.N.(1991). A disaster manager’s handbook. Manila: National Library of the Philippines cip data

Convention for  Assistance & Recovery Forward Development in Indonesia – Norwegian Refugee Council (CARDI-NRC).(2005).Lokakarya tentang Prinsip-Prinsip Panduan bagi Pengungsi Internal. 7-9 & 13-15 September Nangroe Aceh Darusalaam

Dietrich, Anne M., 2007, Traumatic Impact of Violence Against Woman, Trauma Psychology: Issue in Violence, Disaster, Health, and Ilness Volume 2: 259-281.

Dwyer, D.C., Smokowski, P.R., Bricut, J.C. and Wodarski, J.S. (1996). Domestic Violence and Women Battering: Theory and Practice implications, in A.R. Roberts (ed.) Helping Battered Women: New Perspectives and Remidies. Oxford: Oxford University Press

Fachri. (2008). Strategi coping dari http://fachrister.blogdetik.com/strategi-coping/

Fatmariza, dkk. (2003). Kajian Pengembangan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan (P2TP2) Provinsi Sumatera Barat.

Gist, R.,& Lubin, B.(1999). Response to disaster; psychosocial, community, and ecological approaches. Philadelphia: Taylor & Francis Group.

Haqqi, S.(2006). Mental health consequences of disaster. Medicine Today, 4, 102-106.

Kerlinger, F.N. (1992). Foundations of Behavioral Research (2rd  ed). USA: Holt, Rinehart and Wiston, Inc

Khaidir, A.(2005). Minangkabau sebagai basis Kultural dan Pemberdayaan Perempuan. 15 Februari.dari http://www.cimbuak.net

Norris, F.H., Galea, S., Friedman, M.J., & Watsan, P.J. (2006). Methods for disaster mental health research. New York: The Guilford Press.

Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.(2004). Undang-Undang Republik Indonesia No.23 tentang penghapusan kekerasan dalam Rumah Tangga, Pasal 1, ayat 1. Jakarta: Author

Poerwandari, E.K. (1998). Pendekatan Kualitatif dalam penelitian Ilmu Psikologi (cetakan 1). Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi UI

Poerwandari, E.K. (2006). Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Kekerasan Seksual. Jakarta: Program Kajian Wanita Program Pasca sarjana, UI

Poerwandari, E.K. (2009). Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia (ed.3). Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3), Fakultas Psikologi UI

Priyono, J. (2005). Ketidakadilan Gender dalam Penanganan Paska bencana Gempabumi dan Tsunami 26 Desember 2004 di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Ress, S., Pittaway, E., & Bartolomei, L.(2005). Waves of Violence – Women in Post-Tsunami Sri Langka. The Australasian Journal of Disaster and Trauma Studies vol. 2

Samsidar.(2006). Sebagai Korban juga Survivor: Pengalaman dan Suara Perempuan pengungsi Aceh tentang Kekerasan dan Diskriminasi. Jakarta: Komnas Perempuan

Schnuur, P., & Green, B. (Eds), (2004). Physical Consequences of Exposure to Extreme Stress. Washington, DC: American psychiatric association

Stevenson, M.R. (1994). Gender Roles Through the Life Span. Indiana: Ball State University

Surur, M. (2009). Bundo Kanduang Bicara Gender. Depok: Tankinaya Institute

United Nation High Commissioner for Refugees (UNHCR) Convension. (1951).  Internally Displacement People. Jenewa

Urger, R. & Crawford,M. (1992). Women and Gender: A Feminist Approach. New Yoek: McGraw-Hill. Inc

Willig, C. (2001). Introducing Qualitative Research in Psychology: Adventures in Theory and Methode. New York: Open University Press

Women in Disaster: Coference Proceedings and recommendations Exploring the issue seminar. Mei 5-6, Vancouver, British Columbia

www.antara-sumbar.com

www.semilicity.blogspot.com/2009/03/suku-minangkabau.html

Yates, S. (1992). Lay attributions about distress after a natural disaster. Personality and Social Psychology Bulletin, 18, 217-222.

Yentriyani, A. (2007). Perempuan Pengungsi: Bertahan dan Berjuang dalam Keterbatasan, Laporan Kondisi Pemenuhan HAM Perempuan Pengungsi Aceh, Nias, Jogyakarta, Porong, NTT, Maluku dan Poso. Jakarta: Komnas Perempuan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: