TRAUMATIC IMPACT of VIOLENCE AGAINST WOMEN

I. Pendahuluan

Kesadaran masyarakat akan kekerasan terhadap perempuan meningkat pesat akhir dekade ini. Hal ini dikenal sebagai isu kesehatan publik di Negara berkembang dan industri. 10-69% perempuan di dunia dilaporkan mengalami kekerasan oleh pasangan intimnya (intimate partner violence). Di Australia, Kanada, Israel, Afrika Selatan dan Amerika Serikat, dilaporkan 40-70% perempuan dibunuh oleh pasanganya. Akibat kekerasan tersebut berdampak pada gangguan psikologisnya (Krug, 2000).

Kekerasan seksual (sexual violence) dilaporkan terjadi di Bolivia, China dan Philippines ( 200 ribu) dijual selama 7 periode mulai tahun 1990. Sekitar 30 juta perempuan Asia dijual lebih dari 30 tahun (Huda, 2006). Sekitar 120 ribu perempuan dan anak-anak dijual ke Eropa setiap tahunnya (Bremer, 2001). Dari WHO memperkirakan 45 ribu-50 ribu mereka juga dijual ke Amerika Serikat (Krug, 2000). Royal Canadian Mounted Police (RCMP) memperkirakan 600-800 orang dijual ke Kanada setiap tahunnya. 16 ribu-20 ribu anak-anak Meksiko dan Amerika telah dijual untuk tujuan seksual (Cicero-Domingues, 2005).

Tindakan yang umum dilakukan oleh korban kekerasan fisik dan seksual seperti melukai diri sendiri, usaha untuk bunuh diri, memutuskan bunuh diri. Bagi korban, kekerasan tidak akan berakhir sebelum dampak psikologisnya sembuh. Perempuan yang mempunyai riwayat mengalami pelecehan akan terus mendapatkan perlakuan yang sama kembali (Cloitre, el at, 2000). Dalam sebuah penelitian dilaporkan orang dewasa yang dianiaya sewaktu kecil, perbedaan gender akan mendapatkan perlakukan yang sama kembali. Tapi yang lebih rentan adalah wanita, seperti penganiayaan fisik, seksual dan pelecehan oleh pasangannya daripada laki-laki (Dietrich, in press). Survei di Amerika Serikat dilaporkan bahwa perempuan sering dianiaya oleh seseorang yang dikenal daripada laki-laki.

II. Uraian

2.1 Pengertian kekerasan terhadap perempuan
Segala bentuk kekerasan berbasis jender yang berakibat menyakiti secara fisik, seksual, mental atau penderitaan terhadap perempuan ; termasuk ancaman dari tindakan tersebut, pemaksaan atau perampasan semena-mena kebebasan, baik yang terjadi di lingkungan masyarakat maupun dalam kehidupan pribadi. (Deklarasi PBB tentang anti kekerasan terhadap perempuan pasal 1, 1983).
Kekerasan terhadap perempuan (kekerasan fisik, psikologis, seksual, sosial, dan ekonomi) akan memberikan dampak psikologis ini tidak di tanggulangi dengan baik akan merugikan berbagai pihak yaitu individunya sendiri, keluarga dan masyarakat. Berbagai kekerasan terhadap perempuan seringkali disembunyikan dan ditutup-tutupi karena berbagai alasan karena merasa aib atau mendapat tekanan atau ancaman dari pihak pelaku. Kekerasan terhadap perempuan biasanya berkaitan dengan masalah kesehatan dan hak asasi manusia.

2.2 Hal – Hal yang menyebabkan terjadinya kekerasan terhadap perempuan
Ada beberapa penyebab terjadinya tindak kekerasan dipandang dari berbagai aspek yaitu
Terkait dengan ketimpangan atau ketidakadilan jender. Ketimpangan jender adalah perbedaan peran dan hak perempuan dan laki-laki di masyarakat yang menempatkan perempuan dalam status lebih rendah dari laki-laki.
Terkait dengan struktur sosial-budaya/politik/ekonomi/hukum/agama, yaitu pada sistem masyarakat yang menganut patriarki, dimana garis ayah dianggap dominan, laki-laki ditempatkan pada kedudukan yang lebih tinggi dari wanita, dianggap sebagai pihak yang berkuasa. Keadaan ini menyebabkan perempuan mengalami berbagai bentuk diskriminasi, kelemahan aturan hukum yang ada yang seringkali merugikan perempuan. Terkait dengan nilai budaya, yaitu keyakinan, stereotype tentang posisi, peran dan nilai laki-laki dan perempuan, seperti adanya perjodohan paksa, poligami, perceraian sewenang-wenang.
Terkait dengan kondisi situasional yang memudahkan, seperti terisolasi, kondisi konflik dan perang. Dalam situasi semacam ini sering terjadi perempuan sebagai korban, misalnya dalam lokasi pengungsian rentan kekerasan seksual, perkosaan. Dalam kondisi kemiskinan perempuan mudah terjebak pada pelacuran. Sebagai implikasi maraknya teknologi informasi, perempuan terjebak pada kasus pelecehan seksual, pornografi dan perdagangan.

2.3 Bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan
Tindak kekerasan fisik adalah tindakan yang bertujuan melukai, menyiksa atau menganiaya orang lain. Tindak kekerasan non-fisik adalah tindakan yang bertujuan merendahkan citra atau kepercayaan diri seorang perempuan baik melalui kata-kata maupun melalui perbuatan yang tidak dikehendaki korbannya. Tindak kekerasan psikologis adalah tindakan yang bertujuan menggangu atau menekan emosi korban. Secara kejiwaan korban menjadi takut, penurut, bergantung pada suami, sehingga korban menjadi sasaran suami.

2.4 Kekerasan terhadap perempuan dalam hubungan

a. Battering
Yaitu tindakan yang bertujuan untuk melukai, menyiksa atau menganiaya orang lain, dengan menggunakan anggota tubuh pelaku (tangan, kaki) atau dengan alat-alat lain. Bentuk kekerasan fisik yang dialami perempuan, antara lain: tamparan, pemukulan, penjambakan, mendorong secara kasar, penginjakan, penendangan, pencekikan, pelemparan benda keras, penyiksaan menggunakan benda tajam, seperti : pisau, gunting, setrika serta pembakaran. Tindakan tersebut mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit dan luka berat bahkan sampai meninggat dunia.
Battering sering mengakibatkan ketakutan dan frustasi. Perempuan paling rentan kena terganggu emosi dan psikologisnya. Perempuan yang hidup dalam kemiskinan lebih rentan mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan terjadi karena kehilangan kontrol, ketergantungan, ketakutan, kecemasan, frustasi, ancaman harga diri, mempunyai sejarah penyimpangan dalam keluarga. Alasan ini yang menyebabkan battering. Berdasarkan kepercayaan tradisional yang mengangap laki-laki lebih berkuasa, maka kaum ini sering menjadi pelaku kekerasan terhadap perempuan. Tapi ada juga kekerasan sesama jenis. Perempuan yang disakiti oleh pasangannya lebih berdampak baik fisik dan psikologis daripada laki-laki.
Tapi kenapa perempuan yang disakiti tidak meninggalkan pasangannya? Ini karena traumatic bonding yaitu ikatan yang kuat antara korban dan pelaku dalam hubungan yang tidak sehat, sehingga tidak bisa melepaskan diri. Banyak perempuan korban kekerasan yang telah melarikan diri, akhirnya kembali lagi, ini karena ketidakberdayaan dan ketengantungan finansial. Kekerasan tersebut berdampak psikologis dan fungsional/fisik

b. Domestic violence (kekerasan dalam rumah tangga)
Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Depkes RI, 2006)
Adapun yang termasuk lingkup rumah tangga adalah suami, istri, dan anak. Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga yang menetap dalam rumah tangga dan atau orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut.

c. Anak-anak yang menjadi saksi kekerasan dalam rumah tangga
Anak-anak sering kali mengalami mengalami trauma serta menunjukkan sejumlah dampak yang bervariasi. Singkatnya, anak yang menyaksikan KDRT merupakan korban penelantaran emosional (Mash & Wolfe, 1999).
Antara 6-15% perempuan yang telah disurvei di Kanada, Amerika Serikat, Chili, Mesir dan Nicaragua dilaporkan bahwa mereka dilecehkan secara fisik dan seksual saat hamil, yang mengakibatkan kematian dan gangguan perkembangan anak (keguguran, luka, meninggal ketika lahir dan berat badan kurang). (Krug, 2002). Remaja yang menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga akan melakukan pelecehan yang sama ketika beranjak dewasa. Anak-anak belajar dengan cara meniru tingkah laku orang tuanya.
Dampak dari anak-anak yang menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga meliputi gangguan kognitif, emosional, fisik, sosial dan tingkah laku. Banyak dari mereka mengalami depresi dan kecemasan. penghargaan diri yang rendah dan marah. Mereka mungkin menarik diri dari keluarga dan kontak sosial. Mereka memiliki kesulitan di sekolah, kesulitan tidur, makan dan kemunduran perilaku di saat remaja. Dilaporkan adanya gejala-gejala fisik yang tidak diketahui penyebab medisnya. Gangguan tingkah laku seperti agresivitas, kemarahan, tingkah laku berlebihan, ketidakdewasaan, pembolos dan nakal. Memiliki masalah dalam berinteraksi dengan anak seusianya, miskin ketrampilan sosial dan ketidakmampuan berempati terhadap orang lain. Tetapi tidak semua anak akan memiliki masalah seperti itu. Perempuan yang tidak dapat keluar dari masalah ini dan tahu bahwa kekerasan ini berdampak pada anak-anak, akan mengakibatkan dampak psikologis yang serius.

2.5 Pelecehan seksual (sexual violence)
Merupakan tindakan berkaitan dengan kontak seksual yang tidak diinginkan, meliputi pemaksaan untuk melakukan aktivitas seksual sedangkan korban menolaknya. Pelaku pelecehan seksual mempunyai perilaku yang bervariasi. Misalnya laki-laki memegang alat kelamin wanita di tempat umum (frotteurism), mengintim perempuan yang tidak berpakaian atau sedang beraktivitas seksual (voyeurism), laki-laki yang memperlihatkan alat kelaminnya di depan umum (exhibitionism). Bentuk pelecehan seksual yang lain yaitu pemaksaan seksual (molestation), masturbasi, oral sex, pemerkosaan individu dan kelompok (gang rape). Aktivitas seksual dengan melukai pasangannya (sexual sadism).
Akibat pelecehan seksual, korban merasa malu, marah, terhina, tersinggung, benci kepada pelaku, dendam kepada pelaku, shok/trauma berat,

2.6 Pelecehan seksual terhadap anak-anak (sexual abuse of Children)
Terjadi jika pelaku menyentuh anak-anak secara seksual. Meliputi kontak kelamin dan oral serta penetrasi. Awalnya pelaku menjadi teman dan orang kepercayaan anak-anak, dilanjutkan dengan kontak fisik sesering mungkin dengan permainan dan berlanjut ke aktivitas seksual. Pedophilia yaitu orang dewasa yang terangsang hasrat seksualnya dengan anak-anak. Paling sedikit 6 bulan. Sedangkan hebephilia epheboplihia yaitu rangsangan seksual terhadap anak remaja. Remaja yang telah memiliki pengalaman sebelumnya atau yang telah kehilangan figure ayahnya, beresiko meningkatnya pelecehan seksual.
Pelecehan seksual terhadap remaja menyebabkan kehamilan, 5% korban pemerkosaan di Amerika Serikat mengalami kehamilan, 18% terjadi di Ethiophia dan Meksiko (Krug et al, 2002). Eksploitasi seksual di usia muda sering menghasilkan kekurangmampuan perempuan untuk menerima dirinya sendiri, dan meningkatkan resiko pelecehan kembali. Masalah ginekologi dan penularan penyakit seksual mungkin juga terjadi dari pelecehan terhadap anak-anak. Di samping itu, dampak psikologis yang serius dari kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak ini.

2.7 Bentuk-bentuk lain dari pelecehan terhadap perempuan
a. Perdagangan seksual
Pemindahan perempuan antar negara atau dalam negara untuk dieksploitasi. Sering korban dikelabuhi, akan disalurkan bekerja, tapi akhirnya dijual ke tempat prostitusi.
b. Mutilasi alat kelamin perempuan (female genital mutilation)

Biasanya dalam bentuk khitan dan sering dipakai dalam ritual keagamaan. Praktek ini ditemukan di Timur Tengah, Asia dan Afrika. Diperkirakan 100-140 juta perempuan dan gadis di dunia mengalami kejadian ini (Krug, 2002). Mutilasi ini dilakukan dengan memotong klitoris dan labia minora, kemudian labia dijahit dan hampir menutupi vagina Tindakan ini sering dilakukan dalam kondisi non-steril oleh bidan, kadang mengakibatkan terjangkitnya HIV dan infeksi lain. Efek jangka panjang meliputi disfungsi seksual, bentuk alat kelamin yang rusak, penundaan menstruasi, komplikasi pelvic yang kronis, komplikasi saluran kencing, dan dampak psikologis (gangguan emosi) (WHO, 2000).
c. Pemerkosaan dalam peperangan
Perempuan dan anak-anak menjadi target utama dalam konflik, mereka menjadi korban. Perkosaan hasil dari kacaunya kehidupan selama perang.

2.8 Efek traumatis dari kekerasan terhadap perempuan
Dampak traumatis yang dialami perempuan dan remaja meliputi depresi, kecemasan (PTSD), gangguan, disasosiasi, gangguan somatis, luka fisik secara langsung. Pelecehan kronis pada masa anak-anak mengakibatkan tingkah laku yang merusak tubuh, meliputi pengunaan narkoba dan alkohol, perilaku seksual yang beresiko, kurangnya perhatian terhadap diri sendiri yang dapat mengurangi kualitas hidup (Felitti, 1998)
Individu yang langsung menyaksikan kejadian traumatis yang parah, akan mengalami distress klinis. Gejala-gejala PTSD: intrusiveness, mimpi buruk, dan flashback, penghindaran (avoidance) dan, mati rasa, menghindari dan tidak mau memikirkan kejadian tersebut, emosional dan menjauh dari orang lain. Gejala hiperarousal meliputi ketakutan, sensitif, problem konsentrasi dan menghindar.
Menurut DSM IV, dampak dari stress traumatic, yaitu kematian, luka fisik, ketakutan, putus asa, ketakutan yang luar biasa. Depresi memiliki korelasi tinggi dengan PTSD (Kessler, el al).
Stark & Flitcraft (1996) menyebutkan bahwa kekerasan terhadap perempuan diikuti oleh meningkatnya risiko terhadap penggunaan alkohol, obat-obatan terlarang, usaha bunuh diri, masalah-masalah kesehatan dan kesehatan mental. Strauss & Gelles (1999) menyatakan perempuan yang mengalami kekerasan melaporkan kondisi kesehatannya memburuk tiga kali lebih sering, merasakan sakit kepala dua kali lipat, mengalami depresi empat kali lebih sering dan mencoba untuk bunuh diri lima setengah kali lebih sering dibandingkan dengan perempuan yang tidak mengalami kekerasan.


2.9 Studi kasus dan penyembuhannya

a. Kekerasan seksual
Shelly, 25 tahun, dikuti laki-laki kemudian memperkosanya, shelly tak berdaya karena jika berteriak akan dibunuh, setelah kejadian tersebut dia mengalami gangguan, seperti kesulitan tidur, mimpi buruk, kecemasan, dan ketakutan dia mencoba menghapus semua kenangan pahitnya dan menyembunyikan dari keluarga dan temannya. Tapi malah berdampak lebih buruk, dia kehilangan pekerjaannya dan susah berkonsentrasi. Akhirnya Shelly.berobat ke therapist.

Treatment
Penyembuhan dalam kasus ini meliputi psikoedukasi, terapi pengungkapan (exposured therapy) yang meliputi cognitive prossesing therapy, prolonged exposure/eye movement desensitization dan reprocessing. Selama tahap awal, klien diassesmen dulu difokuskan pada PTSD dan kesulitan komplek ( comorbid difficult), seperti depresi berat. Psikoedukasi menyediakan pengetahuan tentang PTSD, masalah comorbid dan strategi coping. Latihan relaksasi mengurangi hiperarousal. Exposure therapy yaitu penyembuhan PTSD dengan dukungan empirikal yang kuat. Dengan teknik yang membantu klien menghadapi rangsang takut. Imaginal exposure untuk memori dan emosi yang menakutkan, clien belajar untuk toleransi terhadap dampak negatif dan membiasakannya. Dengan sikap ini berpikir menjadi jelas. Suksesnya terapi ini diikuti sikap positif. Dengan cognitive distortions penting dalam penyembuhan depresi, meningkatkan aktivitas sehari-hari, interaksi sosial, kesenangan dan pemaknaan hidup.

b. PTSD komplek pada anak yang mengalami pelecehan seksual kronis
Bonnie mengalami pelecehan seksual pada masa anak-anak oleh ayah tirinya. Dia tidak mampu menceritakan pada orang lain, karena diancam akan ditinggalkannya. Bonnie mengalami masalah tingkah laku dan gagal sekolah, meskipun dia anak yang pandai, menjadi depresi dan menarik diri, mengalami mempi buruk dan mengompol saat tidur. Umur 30 tahun Bonnie berobat ke terapi, setelah gagal dalam perkawinan, karena selalu mempunyai masalah dengan suaminya, khususnya ketika berhubungan seksual. Bonnie mengalami gangguan fisik seperti sakit kronis, masalah ginekologi, sistem pencernaan dan paru-paru dia sangat depresi dan sering mencoba bunuh diri.

Treatment
Masalah utamanya, Bonnie sangat depresi dengan pelecehan kronis saat anak-anak dan masalah interaksinya. Terapis mengajukan pertanyaan langsung selama proses pemasukan kemungkinan terjadi pelecehan dengan teknik behavioral descriptive. Bonnie didiagnosis mengalami PTSD. Dia sering melukai diri sendiri, kehilangan kontak dengan sekitarnya (disengagement), depersonalisasi, amnesia dan gangguan somatis. Penyembuhan PTSD komplek ini memerlukan waktu yang panjang, tergantung kemampuan klien. Pertama klien distabilitasi, jika tidak, gejala-gejala akan lebih meningkat dan meningkatkan regresi, melukai diri dan bunuh diri. Jika diperlukan adanya tempat tinggal baru yang aman. Selanjutnya pendekatan mengunakan STAIR/NST. Dua fase pendekatan ini meliputi stabilisasi dan kemampuan interpersonal (STAIR) Proses naratif (NST). Dialectical behavioral therapy (DBT) sangat baik untuk stabilisasi.
Tahap 1, klien dikenalkan dengan perawatan dan latihan untuk keseimbangan emosi dan hubungan yang efektif. Tahap 2, yaitu narrative storytelling. Klien menceritakan apa yang terjadi, kemudian klien mendengarkan musik untuk menstabilkan memorinya.
c. Kekerasan dalam hubungan (KDRT)
Kim mengalami kekerasan dalam rumah tangga oleh suaminya. Suaminya selalu bertindak kasar bahkan ketika dia hamil. Tetapi ketika dia bertekad pulang ke rumah orangtuannya, suaminya merajuk dan minta maaf atas tindakanya. Kekerasan kembali terjadi. Kim merasa tidak nyaman, dan cemas, depresi dan putus asa. Dia tidak bekerja sehingga bergantung pada suaminya. Ketika Kim mau melarikan diri, selalu diancam akan dibunuh. Kim mulai mabuk dan merokok untuk membantunya rilek dan melupakan masalahnya. Setelah keluarganya tahu, Kim akhirnya meninggalkan rumahnya.

Treatment
Kim didiagonis PTSD kronis, depresi, dan ketergantungan obat. Dia mengikuti program penyembuhan dan berhasil menghentikan ketergantungannya. Terapi melakukan psikoedukasi, pengurangan stress dan teknik relaksasi dan cognitive behavioral therapy untuk depresi. Kim mulai membaik. Akhirnya kembali ke rumahnya, karena ditemukan suaminya. Namun Kim masih melanjutkan perawatan secara diam-diam. Kim membuat rencana aman, yaitu menyiapkan koper jika sewaktu-waktu harus melarikan diri, menulis daftar nomor penting, dan minta bantuan tetangganya. Dari program yang dia ikuti, diketahui anak-anak akan mengalami gangguan psikologis ketika menyaksikan kekerasan. Kim juga fokus pada pembentukan sikap pengahrgaan dirinya, melalui congnitive distorsions yang meningkatkan keyakinan dan kekuatan dirinya.

2.10 Rekomendasi untuk kebijakan publik
Penanggulangan tindakan kekerasan terhadap perempuan dimulai dari berbagai level, internasional, nasional, wilayah, masyarakat, keluarga dan individu. Violence against Women Act (VAWA) disahkan dalam Undang-undang tahun 1994, hal yang dilakukan menyediakan dana untuk program pengurangan kekerasan dalam rumah tangga, perkosaan, dan penganiayaan. United National Government Assembly (UNGA) mensahkan deklarasi pengurangan tindakan kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2003. Badan PBB yang concern di hak-hak asasi manusia telah menyiapkan rekomendasi guna menghentikan kekerasan terhadap perempuan.
Usaha melenyapkan tindakan kekerasan terhadap perempuan perlu didukung oleh kebijakan publik dengan adanya pendanaan dari pemerintah, pendidikan umum, professional dan standar, media diseminasi, dan penyembuhan. Pendanaan digunakan untuk membiayai program, meliputi:
a. Program screening di sekolah untuk mengidentifikasi anak-anak yang mengalami pelecehan, menyaksikan sendiri kekerasan dalam rumah tangga dengan intervensi awal setelah sekolah,
b. Program untuk perempuan yang hidup dalam kemiskinan, yang beresiko tinggi mengalami kekerasan dalam rumah tangga
c. Pekerja dengan target (outreach worker)
d. Modifikasi rumah transisi bagi lanjut usia yang lemah
e. Pengembangan staff yang stand by di wilayah tertentu
f. Program rumah ke dua (second-stage housing)
g. Jaringan krisis
h. Pusat pengaduan pelecehan seksual
i. Pusat kegiatan perempuan (women center)
j. Program kesejahteraan
k. Program pelatihan kerja
l. Kesempatan pendidikan bagi perempuan
m. Akses pengobatan dan perawatan kesehatan mental
Pendidikan adalah usaha yang paling efektif untuk meningkatkan kekuatan perempuan dan anak-anak yang beresiko. Dengan mengetahui pengetahuan tentang kekerasan terhadap perempuan, mereka tahu bagaimana cara melindungi diri dan anak-anak mereka dan bagaimana caranya meminta pertolongan.
Media juga memegang peranan penting dalam desiminasi kekerasan terhadap perempuan, menghentikan ekploitasi perempuan sebagai objek. Program televisi juga harus menghindari cerita tentang kekerasan (seksual, pelecehan anak dan perempuan) Pelatihan tenaga professional seharusnya dilibatkan dalam screening kekerasan dalam rumah tangga. Sehingga mampu menangani kasus yang dialami perempuan dan memberikan informasi yang memadai mengenai kekerasan tersebut.
Program kesehatan dan prakteknya harus dapat memenuhi kebutuhan perempuan, misalnya pelegalan aborsi yang diperkosa dan hamil, yang diikuti oleh konseling sebelum dan sesudah aborsi. Kunjungan rutin ke anak-anak yang mengalami pelecehan dan meningkatkan komunikasi antara pusat pelayanan perlindungan anak dan kekerasan dalam rumah tangga. Langkah-langkah yang telah dipaparkan, harus diuji dengan asesmen dulu.

III. Kesimpulan

Kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak telah terjadi di seluruh dunia. Tapi beberapa bentuk kekerasan meliputi keterkaitan dengan budaya, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual terhadap anak-anak. Kekerasan mengakibatkan dampak yang signifikan dan luas bagi fisik dan kesehatan mental perempuan dan anak-anak dan kekerasan dalam keluarga akan menurun ke generasi selanjutnya.
Satu komponen yang penting dari kekerasan terhadap perempuan ini adalah bagaimana perlakukan perempuan di masyarakat. Beberapa negara membuat dan mengimplementasikan kebijakan publik untuk perlindungan. Tapi melihat dari kasus di dunia, masih banyak yang perlu dilakukan. Mengingat perempuan sebagai objek dan lemah di mata laki-laki, itulah penyebab kekerasan terjadi. Lebih lanjut terjadilah kekerasan dalam rumah tangga dan anak-anak. Di negara industri media baik visual dan audio mempunyai peranan penting dalam mengubah perempuan sebagai objek, peningkatan pendidikan, kesempatan kerja sengan gaji dan hak, serta mengurangi presepsi perempuan sebagai inferior.

Daftar Pustaka

Dietrich, Anne M., 2007, Traumatic Impact of Violence Against Woman, Trauma Psychology: Issue in Violence, Disaster, Health, and Ilness Volume 2: 259-281.

Mesraini, 2002, Khitan Perempuan: Antara Mitos dan Legitimasi Doktrinal Keislaman, Jurnal Perempuan Volume 26: 23-27.

Poerwandari K., 2006, Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Kekerasan Seksual, Program Kajian Wanita, Program Pasca sarjana, Universitas Indonesia.

Putri,G.,2007, Gambaran Penghayatan dan Koping pada Perempuan Dewasa Muda yang Mengalami Kekerasan Seksual,18-20.

http://www.waguba.com. Kekerasan terhadap Perempuan dan Dampaknya.8 April 2009
.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: