WOMEN’S EMPOWERMENT PADA PENYINTAS PEREMPUAN DALAM UPAYA MENINGKATKAN RESILIENSI PASCA BENCANA GEMPA BUMI PADANG STUDI DI KOTA PADANG PARIAMAN, SUMATRA BARAT

BAB I

PENDAHULUAN

Kondisi georafis menyebabkan Indonesia sebagai salah satu negara yang rawan bencana. Gempa bumi selalu silih berganti terjadi di wilayah Indonesia. Pada tanggal 30 September 2009, gempa bumi berkekuatan 7,6 SR kembali terjadi di Padang Gempa ini telah mengakibatkan kerusakan bangunan dan korban jiwa di beberapa kabupaten/kota di provinsi Sumatera Barat. Dilaporkan bahwa bencana ini mengakibatkan hancurnya rumah-rumah penduduk, gedung-gedung di di Kota Padang, Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman dan Kabupaten Agam, ditemukan beberapa korban jiwa yang meninggal, luka berat dan ratusan warga mengungsi atau tinggal di sekitar reruntuhan rumah mereka (Posko Penanggulangan Bencana Masyarakat Sipil, 2009)

Berdasarkan hasil asesmen Tim Disaster Management Centre (DMC) Universitas Indonesia (2009), bencana gempa bumi di ranah Minangkabau ini mengakibatkan masyakat shock , belum bisa menerima keadaan bencana yang mendadak terjadi, masih bingung menghadapi. Beberapa masyarakat berlaku agresif dalam bentuk penyetopan bantuan dan membelokkan tujuan tim yang memberikan bantuan. Banyak warga yang termenung karena putus asa dengan kondisi yang dihadapi, sehingga malas untuk melakukan aktivitas yang produktif.

Situasi demikian akan membuat penderitaan bagi masyarakat khususnya kaum perempuan yang mempunyai tugas ganda yang tidak hanya membantu suami dengan mengurus rumah tangga, mendidik putra-putrinya, bahkan harus membantu suami dengan bekerja (www.depsos. go.id)

Banyak laporan dan catatan dari Jurnal Perempuan (2005) menyatakan bahwa perempuan merupakan salah satu kelompok rentan, karena penanganan bencana masih bersifat umum. Banyak kebutuhan spesifik perempuan terabaikan (pembalut, air bersih, keamanan), terbatasnya layanan kesehatan (hamil, melahirkan ,menyusui), kondisi pengungsian yang buruk dan kondisi ekonomi mengakibatkan perempuan rentan mengalami kekerasan khususnya oleh suaminya. Konstruk sosial yang terbentuk di masyarakat mengakibatkan perempuan mempunyai posisi yang lebih rendah, hanya mengurusi masalah domestik, tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan ekonomi tergantung penuh pada suami. Kondisi-kondisi seperti inilah yang menyebabkan perempuan menjadi tertekan, stress, binggung, merasa terabaikan, cemas, dan tidak berdaya.

Dampak bencana pada perempuan salah satunya adalah kehilangan pasangan yang akhirnya perempuan harus menjadi tulang pungung keluarga. Perempuan mengalami penderitaan yang berlipat-lipat, dari dampak bencana, berduka karena kehilangan pasangan, kehilangan harta benda, kehilangan keluarga, menderita luka fisik dan harus berjuang keras untuk mempertahankan hidup, belum ditambah lagi dengan perlakuan diskriminatif dalam akses penerimaan bantuan dan lingkungan yang rusak akibat bencana (Strobe & Hanson, 1993).

Banyak fakta yang membuktikan bahwa sebagian perempuan mampu untuk menghadapi semua hal yang terjadi dalam hidupnya, bahkan saat mengalami kejadian yang bertubi-tubi akibat bencana bencana.  Banyak faktor yang mempengaruhi (protective factors), baik dari internal (self-estreem) maupun eksternal (keluarga dan anak-anaknya). Hal ini berkaitan erat dengan resiliensi yaitu kemampuan untuk melanjutkan hidup setelah ditimpa kemalangan atau setelah mengalami tekanan yang berat bukanlah sebuah keberuntungan, tetapi hal tersebut menggambarkan adanya kemampuan tertentu pada individu (Tugade & Fredrikson, 2004).

Menurut Bernard (2004) yakin bahwa setiap manusia punya kemampuan reseiliensi sejak lahir, jadi tinggal bagaimana caranya kita mengembangkannya, dengan dukungan berbagai pihak secara internal melalui individu itu sendiri dan dari luar. Pemberian masukan dan bantuan ini serta pemberdayaan yang tepat pada seseorang akan membantu dalam meningkatkan tingkat resiliensi.

Pemberdayaan perempuan (women’s empowerment) yaitu suatu proses yang dimana perempuan dapat mencapai/memperoleh kemampuan untuk membuat strategi pilihan hidup, yang tidak hanya melenyapkan hambatan-hambatan yang dihadapi khususnya dampak setelah bencana, tetapi juga mampu meningkatkan/mengembangkan resiliensi di masyarakat (Nirooja, Dilanthi & Richard, 2008). Program-program yang bisa dilakukan dalam usaha penberdayaan masyarakat meliputi program ketrampilan produktif dengan menyelenggakan pelatihan bersama untuk meningkatkan ketrampilan diri dalam bidang usaha untuk meningkatkan ekonomi keluarga, program dukungan kelompok sesama perempuan dalam bentuk melakukan kegiatan kemasyarakatan yang sesuai dengan budaya dan kebiasaan masyarakat setempat. Dengan kegiatan yang berkelanjutan diasumsikan akan meningkatkan resiliensi penyintas perempuan.

Salah satu wilayah terparah akibat bencana gempa bumi di tanah Minagkabau adalah kota Padang Pariaman yang sebagian besar rumah-rumah penduduk hancur dan bangunan infrastruktur rusak. Banyak masyarakat yang kehilangan tempat tinggal, mendirikan tenda-tenda darurat di sekitar rumah dan kehilangan pekerjaan. Banyak kaum perempuan yang tidak punya aktivitas dan masih dalam grief. Dengan program pemberdayaan perempuan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas diri baik fisik dan mental, yang nantinya akan dapat meningkatkan ekonomi keluarga dan meningkatkan resiliensi pada perempuan dan akhirnya menciptakan well-being khususnya bagi penyintas perempuan.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA


2.1 Bencana dan Dampaknya

Dalam buku Methods for Disaster Mental Health Research, bencana didefinisikan sebagai peristiwa yang berpotensi menimbulkan kejadian-kejadian traumatik yang dialami secara kolektif, terjadi secara akut, dan tidak terbatas waktu; bencana mungkin dapat disebabkan faktor alam, teknologi, atau yang disebabkan oleh manusia (Norris, Galea, Friedman, & Watson, 2006).

Dampak umum bencana baik nature dan manmade dari bencana meliputi kehilangan jiwa, luka-luka, kerusakan infrastruktur, kerusakan kehidupan dan hasil panen, gangguan produksi, gangguan kehidupan sehari-hari, kehilangan keluarga, gangguan dalam pelayanan umum, kerusakan infrastruktur secara nasional dan gangguan dalam sistem pemerintahan, penurunan ekonomi nasional, dampak sosiologis dan psikologis setelah bencana terjadi (Carter, 1991).

Menurut American Psychological Association (2006), setiap individu mengalami reaksi yang berbeda-beda dalam merespon dampak bencana. Faktor-faktornya adalah: (1) Tingkat intensitas kehilangan, semakin banyak kehilangan, akan menimbulkan reaksi yang lebih hebat, (2) Kemampuan individu secara umum untuk menghadapi situasi emosional, (3) Peristiwa lain yang menimbulkan stress mengikuti peristiwa traumatic yang baru dialaminya.

Young, Ford & Watson (2005), hal yang dialami orang dewasa yang bertahan dalam bencana, akan mengalami reaksi stress yaitu: (1) Reaksi emosi ( shock, ketakutan, kemarahan, grief, penolakan, rasa bersalah, tidak berdaya, merasa tidak punya harapan dan mati rasa), (2) Kognitif  (binggung,disorientasi, tidak bisa memutuskan, kawatir, kurangnya perhatian, sulit berkonsentrasi, hilangnya ingatan, gangguan memori dan menyalahkan diri sendiri), (3) Reaksi fisik (tegang, capai, kesulian tidur, rasa sakit pada tubuh, mudah terganggu, detak jantung lebih cepat, mual) (4) Reaksi interpersonal ( ketidak percayaan, merasa terganggu, menarik diri, diabaikan).

Bencana dapat menyebabkan dampak psikologis, yang meliputi shock, stress, cemas, takut, khawatir dan ganguan-ganguan yang berkaitan dengan gejala-gejala psikologis lainnya. Dari kumpulan gejala-gejala tersebut dapat dikategorikan dalam posttraumatic stress disorder (Salzer & Bickman. 2005).

2.2 Grief

Telah disebutkan oleh Young, Ford & Watson (2005) bahwa grief merupakan salah satu dari reaksi emosi korban bencana alam. Grief yang timbul dapat disebabkan oleh bermacam-macan hal. Diantaranya dapat diakibatkan oleh kehilangan orang-orang terdekat, kehilangan barang berharga, tempat tinggal serta komunikasi dengan orang-orang terdekat, pada korban bencana alam, reaksi grief yang dialami oleh korban akan dirasakan bersamaan dengan reaksi mereka terhadap bencana alam itu sendiri. Terdapat beberapa kesamaaan antara ekspresi yg muncul dalam reaksi grief normal dengan reaksi terhadap bencana alam yang dikemukakan oleh Young, Ford & Watson, (2005).

Beberapa reaksi yang umum ditemui pada proses grief orang yg berduka dan korban bencana alam antara lain:  reaksi emosi, reaksi yg muncul adalah seperti shock, takut marah, penolakan dan rasa bersalah. Mati rasa (emotional numbing) juga merupakan reaksi orang yang sedang berduka maupun bencana alam. Selain itu juga terdapat reaksi kognitif yg berupa kebinggungan serta tidak dapat memutuskan sesuatu. Reaksi fisik yg merupakan adanya perubahan dan gangguan fisik juga kerap dialami, dimana dua reaksi yang paling sering disebut adalah kesulitan tidur serta perubahan selera makan, perubahan tingkah laku juga disebut sebagai salah satu reaksi dari orang yang mengalami grief maupun korban bencana alam. Perubahan ini menurut Young, Ford & Watson, (2005) dapat berakibat kepada hubungan interpersonal orang yang mengalami grief maupun orang yang menjadi korban bencana alam.

2.3 Resiliensi

2.3.1  Pengertian

Wolff (dalam Banaag, 2002), memandang resiliensi sebagai trait. Menurutnya, trait ini merupakan kapasitas tersembunyi yang muncul untuk melawan kehancuran individu dan melindungi individu dari segala rintangan kehidupan. Individu yang mempunyai intelegensi yang baik, mudah beradaptasi, social temperament, dan berkepribadian yang menarik pada akhirnya memberikan kontribusi secara konsisten pada penghargaan diri sendiri, kompetensi, dan perasaan bahwa ia beruntung. Individu tersebut adalah individu yang resilien.

Grotberg (1995), di sisi lain menjelaskan bahwa resiliensi merupakan kapasitas yang bersifat universal dan dengan kapasitas tersebut, individu, kelompok ataupun komunitas mampu mencegah, meminimalisir ataupun melawan pengaruh yang bisa merusak saat mereka mengalami musibah atau kemalangan.

Resiliensi disebut juga oleh Wolin & Wolin (dalam Bautista, Roldan & Bascal, 2001), sebagai keterampilan coping saat dihadapkan pada tantangan hidup atau kapasitas individu untuk tetap “sehat” (wellness) dan terus memperbaiki diri (self repair).

Banaag (2002), menyatakan bahwa resiliensi adalah suatu proses interaksi antara faktor individual dengan faktor lingkungan. Faktor individual ini berfungsi menahan perusakan diri sendiri dan melakukan kontruksi diri secara positif, sedangkan faktor lingkungan berfungsi untuk melindungi individu dan “melunakkan” kesulitan hidup individu.

Masten & Coatswerth (dalam Davis, 1999), mengatakan bahwa untuk mengidentifikasikan resiliensi diperlukan dua syarat, yaitu yang pertama adanya ancaman yang signifikan pada individu (ancaman berupa status high risk atau ditimpa kemalangan dan trauma yang kronis) dan yang kedua adalah kualitas adaptasi atau perkembangan individu tergolong baik (individu berperilaku dalam compotent manner).

2.3.2 Faktor-Faktor Resiliensi

Banyak penelitian yang berusahan mengidentifikasikan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap resiliensi seseorang. Faktor tersebut meliputi dukungan eksternal dan sumber-sumbernya yang ada pada diri seseorang (misalnya keluarga, lembaga-lembaga yang peduli terhadap perempuan), kekuatan personal yang berkembang dalam dalam diri seseorang (penghargaan diri, spiritualitas, kemampuan monitoring diri dan sifat menolong) dan kemampuan sosial (mengatasi konflik, kemampuan komunikasi).

Grotberg (1995) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi, yang pertama yaitu; I HAVE, merupakan aspek bantuan dan sumber dari luar yang meningkatkan resiliensi. Sumber-sumbernya adalah: (1) pemberian semangat dari orang-orang dekat atau sekitar, agar individu mandiri, (2) adanya struktur dan aturan lingkungan, setiap keluarga mempunyai peraturan-peraturan yang harus dipatuhi, (3) Role model, yaitu orang-orang yang dapat menunjukkan apa yang individu harus lakukan, (4) mempunyai hubungan dengan orang-orang dekat yang mau mencintai dan menerima individu tersebut.

Faktor yang ke dua: I AM, merupakan kekuatan yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri, seperti perasaan, tingkah laku dan kepercayaan yang diyakini oleh seseorang. Faktor I Am ini terdiri dari beberapa bagian, antara lain: bangga pada diri sendiri (self-esteem), perasaan dicintai dan sikap yang menarik, individu dipenuhi harapan, iman dan kepercayaan, mencintai, empati dan altruistik, mandiri dan bertanggung jawab.

Sedangkan, faktor ke tiga: I CAN, merupakan kompetensi sosial dan interpersonal seseorang. Bagian-bagian dari faktor ini adalah : (1) mengatur berbagai perasaan dan rangsangan, dimana individu dapat mengenali perasaan mereka, mengenali berbagai jenis emosi, dan mengekspresikannya dalam kata-kata dan tingkah laku namun tidak mengunakan kekerasan terhadap perasaan dan hak orang lain maupun diri sendiri, (2) mencari hubungan yang dapat dipercaya dimana individu dapat menemukan seseorang untuk berbagi perasaan dan perhatian, untuk mencari cara terbaik untuk mendiskusikan dan menyelesaikannya, (3) ketrampilan berkomunikasi, dimana individu mampu mengekspresikan berbagai macam fikiran dan perasaannya kepada orang lain dan sebaliknya, (4) mengatur temperamen dan  diri sendiri dan orang lain, (5) kemampuan memecahkan masalah, yaitu individu mampu menilai masalah secara alami serta mengetahui apa yang mereka butuhkan untuk memecahkan masalah tersebut, yaitu dengan cara berbicara dengan orang lain atau terus bertahan sendiri.

Setiap faktor dari I Am, I Have, I Can memberikan konstribusi pada berbagai macam tindakan yang dapat meningkatkan potensi resiliensi. Individu yang resilien tidak membutuhkan semua sumber-sumber dari setiap faktor, tetapi apabila individu hanya memiliki satu faktor individu tersebut tidak dapat dikatakan sebagai individu yang beresiliensi, misalnya individu yang mampu berkomunikasi dengan baik (I Can) tetapi ia tidak mempunyai hubungan yang dekat dengan orang lain (I Have) dan tidak dapat mencintai orang lain (I Am), ia tidak termasuk orang yang beresiliensi.

Menurut (Bernard, 2004), menyatakan bahwa setiap manusia mempunyai kapasitas untuk resiliensi sejak lahir. Hal ini akan semakin baik jika kita mau mengembangkan kompetensi sosialnya ( ketrampilan, komunikasi, empati dan bertanggung jawab), problem solving skills ( ketrampilan membuat keputusan, berfikir kritis dan kreatif, fleksibel dan merencanakan sesuatu), autonomy (positive identity, self-efficacy, self-awareness, locus of control), dan a sense of purpose (optimis, motivasi untuk berprestasi, minat terhadap suatu kegiatan, keyakinan) dari setiap individu. Resiliensi terwujud sebagai proses berkembangnya empat kategori faktor tersebut.

2.4 Pemberdayaan Perempuan (Women’s Empowerment Programme)

2.4.1 Konsep Pemberdayaan (Empowerment)

Robinson (1994) menjelaskan bahwa pemberdayaan adalah suatu proses pribadi dan sosial; suatu pembebasan kemampuan pribadi, kompetensi, kreatifitas dan kebebasan bertindak. Ife (1995) mengemukakan bahwa pemberdayaan berarti memberi daya, memberi kuasa dan kekuatan kepada pihak yang kurang berdaya. Segala potensi yang dimiliki oleh pihak yang kurang berdaya itu ditumbuhkan, diaktifkan, dikembangkan sehingga mereka memiliki kekuatan untuk membangun dirinya. Rapport (1987) mengatakan bahwa pemberdayaan diartikan sebagai pemahaman secara psikologis pengaruh kontrol individu terhadap keadaan sosial, kekuatan politik dan hak-haknya.

2.4.2 Pemberdayaan Perempuan dalam Bencana

Menurut Magar (2003), pemberdayaan perempuan adalah hasil dari proses dimana perilaku dan kapasitas individu dikombinasikan dengan aksi dan didukung dengan sumber-sumber yang ada sehingga tercapai tujuan. Kabeer (1999) mendeskripsikan pemberdayaan perempuan adalah proses dimana perempuan memperoleh kemampuan untuk membuat strategis pilihan hidup dalam bentuk 3 dimensi (sumber, agen/proses, hasil/pencapaian). Magar dalam studinya mengunakan pendekatan gender (Kabeer, 1999; Stein, 1997).

BAB III

PENGEMBANGAN PROGRAM WOMEN’S EMPOWERMENT PADA PENYINTAS PEREMPUAN DALAM UPAYA MENINGKATKAN RESILIENSI PASCA BENCANA GEMPA


Penyintas perempuan pasca bencana merupakan kelompok rentan yang dengan segala keterbatasan dan posisi yang diperoleh di masyarakat, menjadikannya harus tetap bertahan dalam kondisi apapun. Beberapa permasalahan dari penyintas perempuan adalah menjadi individu yang tergantung pada suami, sehingga tidak mampu berbuat apapun ketika suami melakukan kekerasan dan perempuan kurang banyak beraktivitas setelah bencana, ini yang mengakibatkan rasa duka menjadi berlarut-larut. Bertambah berat lagi, jika perempuan yang menjadi kepala rumah tangga.

Maka diperlukan suatu kegiatan pemberdayaan perempuan (women’s empowerment) yang mampu meningkatkan kapasitas diri perempuan (ketrampilan) dan meningkatkan resiliensi sehingga tercipta kesejahteraan (well-being). Berikut ini beberapa program kegiatan yang bisa dilakukan:

3.1 Program Peningkatan Kapasitas Perempuan dan Ketrampilan

Kegiatan ini meliputi penyelenggaraan pelatihan-pelatihan ketrampilan bagi perempuan, yang ke depannya bisa dijadikan modal untuk membuka usaha. Ketrampilan ini berkaitan dengan membangun kembali usaha masyarakat yang dulunya sudah ada, dan mengali lagi ketrampilan baru, seperti menjahit, membuat kue atau makanan, membordir jilbab, membuat makanan dari hasil laut, menyulam, dan sebagainya.

Pertama-tama, sebelum melakukan kegiatan ini, dari lembaga bantuan melakukan (Focus Group Discussion) dulu bersama kelompok perempuan untuk memutuskan pelatihan apa yang diperlukan, selanjutnya mengali potensi-potensi yang ada, untuk menjadi pelatih/pengerak pelatihan tersebut. Misalnya yang mempunyai keahlian dalam membuat kue, jadi difasilitasi untuk melatih rekan-rekannya. Dibicarakan juga mengenai bahan dan peralatan apa saja yang diperlukan dan bagaimana cara mendapatkannya. Dibentuk pula kepengurusan yang menkoordinir kegiatan pelatihan dan perawatan peralatan. Penentuan waktu dan tempat pelaksanaan pelatihan. Dan terakhir rencana pertemuan rutin untuk evaluasi kegiatan yang sudah berjalan yang dikoordinir oleh pengurus dan diawasi oleh lembaga donor.

3.2 Kelompok Dukungan (Support Groups)

Kelompok dukungan merupakan suatu kelompok yang terdiri dari individu yang mengalami kejadian yang serupa (Poerwandari, 2003). Dalam penguatan psikososial kelompok ini sangat penting. Kelompok dukungan ini juga dapat mengacu pada kegiatan bersama-sama dari pihak-pihak yang tidak mengalami langsung kejadian bencana. Tujuan utama pengembangan program kelompok dan kegiatan bersama adalah: (1) penyediaan sarana berbagi perasaan, yang pada gilirannya akan menurunkan beban dan ketegangan, sekaligus menyadarkan anggota kelompok bahwa ada orang-orang lain yang juga mengalami hal serupa, (2) penyediaan sarana saling menguatkan, yang kadang lebih efektif dilakukan oleh sesama, daripada oleh professional kesehatan mental, (3) penyediaan sarana diskusi untuk saling bertukar pemikiran, saling bertukar dan menguatkan harapan, ataupun strategi menghadapi kesulitan, dan bahkan dapat terjadi perkembangnya aktivitas-aktivitas kelompok lanjutan sebagai kesepakatan bersama, seperti membentuk usaha bersama (Poerwandari, 2003).

Kegiatan kelompok dukungan ini tidak harus menentukan waktu dan tempat untuk berkumpul, tapi bisa dibuat lebih fleksibel dengan memanfaatkan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan khususnya untuk perempuan yang sudah ada sebelumnya, ini juga bermanfaat untuk menghidupkan kembali tradisi dan sense of place penyintas perempuan. Kegiatan kemasyarakatan meliputi arisan, pengajian ibu-ibu, senam jantung sehat, karawitan (disesuaikan dengan daerah masing-masing), dan sebagainya. Kegiatan lain yang melibatkan masyarakat luas yaitu kerja bakti, kegiatan keagamaan dan ritual budaya, dan musyawarah bersama, juga mampu mengembalikan sense of place dan kembali ke kehidupan seperti sebelum bencana. di dalam sela-sela kegiatan tersebut individu bisa berinteraksi dan berbagi cerita dan pengalamannya. Dengan kegiatan seperti ini secara berkelanjutan akan mengalihkan keterdukaan (grief) kepada kegiatan yang lebih bermanfaat yang akhirnya mampu meningkatkan resiliensi.

3.3 Psikoedukasi

Psikoedukasi adalah pemberian informasi dan pendidikan psikologis popular dan sederhana pada masyarakat luas. Tujuannya untuk membantu manyarakat memahami aspek-aspek psikososial dari masalah yang mereka hadapi dan langkah-langkah yang perlu diambil untuk pemulihan (Poerwandari, 2003).

Banyak hal dapat ditelaah di psikoedukasi yaitu: (1) dampak psikososial dari kekerasan masal/bencana, dan dampak lanjutannya terhadap keseluruhan kehidupan bila aspek psikososialnya tidak tertanggani, (2) tanda-tanda trauma atau masalah psikologis yang muncul, (3) bagaimana dan mengapa keluarga serta komunitas perlu mengembangkan dukungan terhadap satu sama lainnya, dan bagaimana meningkatkan ketangguhan, menguatkan kerjasama dan sikap tenang agar masyarakat tidak mudah terpancing rumor (Poerwandari, 2003)

Program psikoedukasi ini bisa mempergunakan berbagai macam media dan pendekatan, misalnya secara tradisional (kesenian, lokal wisdom), poster, pamflet, yang disesuaikan dengan kebudayaan setempat dan usia. Kegiatan psikoedukasi ini dilakukan oleh lembaga-lembaga (LSM) yang bisa sertakan ke dalam kegiatan kemasyarakatan, jadi setelah kegiatan kemasyarakatan selesai, bisa memberikan psikoedukasi kepada penyintas.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN


Dampak bencana mempunyai pengaruh yang besar bagi penyintas perempuan, dengan segala keterbatasan menjadikan penyintas perempuan menjadi kaum termarginalkan. dari kurangnya akses bantuan, kebutuhan yang kurang diperhatikan dan rentan mengalami kekerasan. Kondisi diperparah dengan konstruk sosial yang mengakibatkan perempuan tidak bisa berbuat banyak. Dengan multi-kondisi akibat bencana, kemungkinan besar penyintas perempuan mengalami dampak/gangguan psikologis seperti tertekan, shock, stress, cemas, binggung, bahkan mengembangkan PTSD.

Maka, diperlukan suatu pendekatan yang terintergrasi yaitu dalam upaya pemberdayaan perempuan penyintas bencana, agar perempuan memiliki pengetahuan yang memadai mengenai bencana dan dampaknya, mampu mengembangkan potensi-potensi yang ada, serta ketrampilan-ketrampilan untuk memempertahankan hidup ke depannya. Dengan pengetahuan dan ketrampilan yang ada, penyintas perempuan khususnya mampu untuk menyikapi apa yang terjadi pada dirinya dan mampu berespon jika suatu tindakan akan mengancam fisik dan psikisnya. Pemberdayaan perempuan meliputi pelatihan ketrampilan, kelompok dukungan dan psikoedukasi.

Selain pemberdayaan perempuan, perlu juga membuat kebijakan-kebijakan dalam penangganan bantuan yang memperhatikan kebutuhan perempuan dan melek gender. Sehingga semua penyintas bencana mendapatkan sesuai hak dan kebutuhannya, serta pelibatan penyintas perempuan dalam pengambilan keputusan serta dalam penangganan bencana. fakta membuktikan bahwa perempuan mempunyai banyak potensi untuk memberikan peran dalam kegiatan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association.(1994). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (4th ed). Washington, DC: Author.

Banaag, C. G. (2002). Reiliency, street Children, and substance abuse prevention. Prevention Preventif, Nov. 2002, Vol 3.

Carter,W.N.(1991). A disaster manager’s handbook. Manila: National Library of the Philippines cip data

Grotberg, E.H (1995). The International Relisiensce Project; A Guide to Promoting Relicience in Children: Strengthening the Human Spirit.

Jurnal Perempuan edisi 40 (2005). Perempuan Dalam Bencana. Yayasan Jurnal Perempuan, Jakarta

Kabeer, N. (1999) Resources, agency, achievements: Reflections on the Measurement of Women’s

Laporan Hasil Asesmen Situasi Bencana Gempa Bumi Sumatera Barat. (2009). Tim Disaster Management Centre (DMC) Universitas Indonesia

Magar, V. (2003) Empowerment Approaches to Gender-Based Violence: Women’s Courts in Delhi

Norris, F.H., Galea, S., Friedman, M.J., & Watsan, P.J. (2006). Methods for disaster mental health research. New York: The Guilford Press.

Poerwandari, K.E. (2003). Pemulihan Psikososial Berbasis Komunitas. Jakarta: Yayasan Pulih

Strobe, M.S., Strobe W. & Hansson, R.O. (1993). Hand Book of Beveavement;Theory, Research and Intervension. New York: Cambridge University

Young, B.H., Ford, J.D. & Watson, P.J. (2005). Survivor of Human Caused and Natural Disaster. 20 December 2009. http://apahelpcentre.org/article

(www.depsos. go.id)

2 Responses

  1. assalamualaikum,,
    halo mbaa,, mba saya ingin bertanya, tulisan ini penelitian kah mb? soalnya saya skrg sedang melakukan penelitian untuk skripsi saya temanya hampir sama dengan tulisan mba, mungkn saya bisa berdiskusi tentang tulisan mba ini ?
    trims,
    helda, yogyakarta

  2. walaikum salam.. iya..salam kenal sebelumnya.. untuk tulisan ini hanya salah satu tugas kuliah saja, jadi dibuat hanya menggunakana studi literatur saja..kalau seandaianya mau berdiskusi, …mari silahkan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: