Sikap Positif Terhadap Tingkat Stres Individu

I. Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari banyak peristiwa atau kejadian yang dialami oleh seseorang, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Pengalaman-pengalaman dari peristiwa kehidupan tersebut menghasilkan dampak yang berbeda-beda tergantung individu yang menanggapi. Misalnya, ketika banyak tugas kantor atau kuliah, bagi yang memiliki pemikiran yang negatif, memandang bahwa tugas sebagai beban berat, akhirnya kita akan menjadi stres dan melakukan hal-hal yang negatif seperti tidur seharian, minum-minum, marah, pusing, susah berkonsentrasi, dan sebagainya. Tapi bagi yang menanggapinya secara positif akan menjadikan tugas tersebut adalah suatu tantangan dan harus diselesaikan. Jadi tidak semua masalah yang merupakan sumber stres itu merugikan kita, tergantung bagaimana cara individu menanggapinya.

Dari penyataan di atas, diketahui bahwa apa yang akan terjadi pada kita, tergantung pada apa yang kita pikirkan terhadap hal tersebut. Ketika kita berpikir negatif, maka perilaku kita negatif dan sebaliknya ketika kita berfikir positif, maka perilaku kita positif.

Banyak hal  dapat memicu stres dalam kehidupan kita. Dalam keseharian kita menghadapi pekerjaan rutin kita, mengurus orang tua atau anak kita, rumah tangga, dan tugas-tugas yang lain.  Hal-hal tersebut tidak bisa kita hindari dan selalu berdekatan dengan kita, maka diperlukan suatu tindakan (action) untuk menghadapi dan menyelesaikannya. Jadi ketika kita stres, dengan segala konsekuensi yang dihasilkannya, diperlukan suatu coping stres untuk mengelola stress itu sendiri agar tidak menganggu kehidupan kita.

Berkaitan dengan coping stres ini, salah satu tindakan untuk mengurangi dan menetralkan stres adalah dengan cara berfikir positif (positive thinking). Individu yang mempunyai fikiran positif cenderung melihat yang positif secara lebih baik. Bagi individu yang menggunakan pola berfikir positif, maka akan timbul keyakinan bahwa setiap masalah akan ada jalan pemecahannya. Jadi setiap masalah yang dihadapi adalah suatu hal yang pasti ada pemecahannya.

Berfikir positif sebagai salah satu alternatif dalam coping stres. Tulisan ini mencoba menjabarkan kaitan berfikir positif dan tanggapan terhadap stres yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dan menjelaskan coping stres secara lanjut dalam menanggapi stres hidup.

Bila selama ini, banyak penelitian yang mengali dan meneliti mengenai emosi negatif , kaitannya adalah dengan problem solving dari gangguan emosi yang dialami individu. Maka tulisan ini mencoba mengali emosi positif  dalam kaitan dengan stress. Emosi positif seperti joy dan happiness, merupakan mekanisme menyelamatkan diri secara jangka panjang dan menunjukkan gambaran besar berfikir.

 

II. Deskripsi Mengenai Berfikir Positif dan Stress

2.1    Berfikir positif

Berfikir positif merupakan suatu cara berfikir yang lebih menekankan pada hal-hal yang positif, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun situasi yang dihadapi. Setiap pemikir positif akan melihat setiap kesulitan dengan cara yang gamblang dan polos serta tidak mudah terpengaruh sehingga menjadi putus asa oleh berbagai tantangan ataupun hambatan yang dihadapi. Individu yang berfikir positif selalu berdasarkan fakta bahwa setiap masalah pasti ada pemecahan dan suatu pemecahan yang tepat selalu melalui proses intelektual yang sehat (Peale,1996).

Menurut Albrecht (1980) berfikir positif berkaitan dengan perhatian positif (positive attention) dan juga perkataan yang positif (positive verbalization). Perhatian positif berarti pemusatan perhatian pada hal-hal dan pengalaman yang positif, sedangkan perkataan positif  adalah pengunaan kata-kata ataupun kalimat-kalimat yang positif untuk mengekspresikan isi pikirannya , hal ini pada akhirnya akan menghasilkan kesan positif pada pikiran dan perasaan.

Albrecht (1980) menyatakan bahwa dalam berfikir positif tercakup aspek-aspek sebagai berikut:

a.    Harapan yang positif (positive expectation), yaitu melakukan sesuatu dengan lebih memusatkan perhatian pada kesuksesan, optimis dan pemecahan masalah dan menjauhkan diri dari perasaan takut akan kegagalan.

b.    Affirmasi diri (self affirmative), yaitu memusatkan perhatian pada kekuatan diri, melihat diri secara positif. Dalam hal ini individu menggantikan kritik pada diri sendiri dengan memfokuskan pada kekuatan diri sendiri.

c.    Pernyataan yang tidak menilai (non judgement talking), yaitu suatu pernyataan yang mengambarkan keadaan daripada menilai keadaaan. Pernyataan ataupun penilaian ini dimaksudkan sebagai penggantinya pada saat seseorang cenderung memberikan pernyataan ataupun penilaian yang negatif.

d.   Penyesuaian diri yang realistic (realistic adaptation), yaitu mengakui kenyataan dan segera berusaha menyesuaikan diri dari penyesalan, frustasi dan menyalahkan diri.

Berfikir positif ini berhubungan erat dengan psikologi positif. Salah satu sikap yang ada dalam psikologi positif adalah berfikir positif. Psikologi positif berkembang dalam 5 tahun terakhir sebagai pionernya adalah martin E.P. Seligman dari Pennsylvania University.

Psikologi positif berkaitan dengan pengalian emosi positif, seperti bahagia, kebaikan, humor, cinta, optimis, baik hati, dan sebagainya. Psikologi positif adalah studi tentang emosi positif , karakter positif dan instituisi yang terpercaya. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lee Anne Harker dan Dacher Kelther (2001) mengemukakan bahwa ekspresi positif berhubungan dengan kepribadian dan keberhasilan, dan ini dapat dipredikasi kesejahteraan diri dan kehidupan perkawinan. Disebutkan juga bahwa daya tarik fisik dan ketertarikan sosial berpengaruh pada penemuan ini.

2.2    Stres

Stres adalah kondisi yang tidak menyenangkan dimana manusia melihat adanya tuntutan dalam suatu situasi sebagai beban atau diluar batasan kemampuan mereka untuk memenuhi tuntutan tersebut (Brehm & Kassin, 1996). Menurut Patel (1996), stress tidak selalu negatif . Stress merupakan respon-respon tertentu tubuh terhadap adanya tuntutan-tuntutan dari luar.  Dengan tuntutan tersebut, tubuh manusia berusaha mengatasi dengan menciptakan keseimbangan antara tuntutan luar, kebutuhan dan nilai-nilai internal, kemampuan coping personal dan kemampuan lingkungan untuk memberikan dukungan. Hasil dari interaksi tersebut akan menghasilkan persepsi terhadap stres. Ketika stres telah dipersepsikan secara positif dapat memotivasi manusia untuk lebih percaya diri.

Patel, Hans Selye (1975, dalam Patel, 1996) menjelaskan adanya empat tahapan stress yang meliputi understress, eustress, overstress dan distress. Pada kondisi eustress, kondisi tubuh dalam keadaan seimbang, energik, rileks. Ketika sudah melampaui tahapan ini, tubuh akan merasa lelah, cemas, dan agresif.

Lazzarus (1976, dalam Isniwarti,1996) dan Patel (1996) menjelaskan bahwa stress merupakan mekanisme yang bersifat individual. Stres bagi seseorang belum tentu merupakan stres bagi yang lainnya, ini disebabkan karena persepsi yang berbeda-beda pada setiap orang tentang hal-hal yang menimbulkan stress.

Penyebab stres (stressor) berasal dari kondisi fisik, psikologis maupun sosial. Keadaan seperti polusi udara, kebisingan, kesesakan, lingkungan yang bervariasi, hubungan dengan rekan kerja, kompetisi hidup yang tinggi, masalah dalam keluarga, tugas yang banyak, kehilangan seseorang yang disayangi, dan sebagainya. Tapi perlu ditekankan disini bahwa stresor tersebut dapat menimbulkan stres ataupun tidak tergantung bagaimana individu menyikapi stresor itu.

Dampak stres menimbulkan banyak reaksi baik fisiologi dan psikologis. Reaksi fisiologis meliputi nyeri dada, pusing, sakit perut, lelah, jantung berdebar  dan mual. Reaksi psikologis meliputi tegang, cepat marah, mudah tersinggung, ingatan lemah, tidak mampu berkonsentrasi, dan emosi tidak terkendali.

Dari banyak dampak dari stress, maka diperlukan pendekatan yaitu coping stress yang merupakan proses dimana individu melakukan usaha untuk mengatur situasi yang dipersepsikan adanya kesenjangan antara usaha dan kemampuan yang dinilai sebagai penyebab munculnya stress. Coping stress misalnya bercerita, santai, rekreasi, mendekatkan dengan Tuhan, yoga, melakukan kegemaran kita, dan sebagainya.

 

III. Pengaruh Berfikir Positif Terhadap Tingkat Stress

Individu dengan pikiran yang positif, mampu melihat segala permasalahannya dari segi positifnya. Pikiran yang positif ditunjang dengan perilaku yang positif mampu membangun ketahanan diri dan kekuatan untuk melihat permasalahan yang berkaitan dengan hidup sehari-hari dengan positif pula. Hasil yang diperoleh pun akan positif pula bagi penyelesaian masalah.

Dikaitkan dengan uraian di atas, bahwa dengan berfikir positif adalah cara berfikir yang optimis terhadap lingkungan dan diri sendiri. Individu yang biasa berfikir positif tidak mudah menyalahkan diri sendiri ataupun lingkungan jika terjadi kesalahan. Kecenderungan berfikir individu baik positif maupun  negatif akan membawa pengaruh terhadap penyesuaian dan kehidupan psikisnya (Goodhart, 1985).

Albrecht (1980) berpendapat bahwa individu yang berfikir positif akan mengarahkan pikiran-pikirannya ke hal-hal yang positif, akan berbicara tentang kesuksesan daripada kegagalan, cinta kasih daripada kebencian, kebahagiaan daripada kesedihan, keyakinan dari pada ketakutan, kepuasan daripada kekecewaan sehingga individu akan bersikap positif dalam menghadapi permasalahan. Menurut Peale ( 1996) dengan berpikir positif, individu dapat menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil di sekitarnya.

Dengan berfikir positif, ada manfaat yang bisa diambil, yaitu kita akan menyikapi suatu hal (peristiwa/kejadian) dengan positif, bagaimanapun bentuk dan tingkat dari kejadian tersebut. Dikaitkan dengan stress, yaitu identik dengan keadaan yang serba negatif, berat dan beban. Jika kita berusaha menyikapi dengan positif, maka hasilnya akan berbeda, dan akan memotivasi kita bergerak ke depan untuk menyelesaikannya.

Beberapa penelitian  yang menemukan efek dari berfikir positif. Goodhart (1985) terhadap 173 mahasiswa menemukan bahwa berfikir positif mempunyai hubungan yang signifikan dengan kondisi psikologi yang positif, tetapi tidak berhubungan dengan adanya efek negatif dan simtom psikologis. Seseorang yang berfikir positif tinggi menunjukkan tingkat kondisi psikologis yang lebih positif, antara lain dilihat dari afek, harga diri, kepuasan umum dan kepuasan khusus.

Berkaitan dengan stres, berfikir positif merupakan salah satu metode yang efektif untuk mengatasinya. Peale & Taylor (dalam Goodhart, 1985) membuktikan bahwa berfikir positif merupakan strategi yang baik dalam menghadapi stress. Chaerani (1995) menemukan hasil yang sama. Penelitiannya terhadap 120 remaja di SMA 1 Cirebon melaporkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara berfikir positif dan harga diri dengan daya tahan menghadapi stres. Analisis data menunjukkan sumbangan berfikir positif terhadap daya tahan menghadapi stres sebesar 15 %. Penelitian terhadap pria eksekutif menemukan bahwa eksekutif yang memandang stressor sebagai tantangan dan sebagai peluang untuk tumbuh dan berkembang mempunyai kesehatan fisik yang lebih baik daripada eksekutif yang memandang stressor sebagai ancaman ( Goodhart,1985).

Beberapa metode dalam menghadapi stress antara lain:

a.       Menghilangkan stres dengan mekanisme pertahanan, dan penangganan yang fokus pada masalah. Terdiri dari (1) problem-focused coping yaitu strategi kognitif untuk penanganan stres atau coping yang digunakan oleh individu yang menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya, dan (2) emotion-focused coping yaitu strategi penanganan stres dimana individu memberikan respon terhadap situasi stres dengan cara emosional, terutama dengan menggunakan penilaian defensif.

b.      Berpikir positif dan self-efficacy, menurut Bandura (dalam Santrock, 2003) self-efficacy adalah sikap optimis yang memberikan perasaan dapat mengendalikan lingkungannya sendiri.

c.       Sistem dukungan, yaitu keterikatan yang dekat dan positif dengan orang lain terutama dengan keluarga dan teman secara konsisten ditemukan sebagai pertahanan yang baik terhadap stres.

Dari beberapa penelitian di atas, menunjukkan bahwa berfikir positif mempunyai pengaruh yang positif terhadap kondisi psikologis, daya tahan terhadap stres, kesehatan fisik dan merupakan metode yang baik untuk menghadapi stres.

Berfikir positif dalam menghadapi situasi yang sedang terjadi akan menolong seseorang untuk menghadapi secara efektif. Hal ini dapat dilakukan dengan penciptaan lingkungan yang dirasakan mengenakan secara psikis atau dengan memungkinkan seseorang untuk mampu melihat dan mengunakan sumber-sumber eksternal (Folkman dalam Goodhart, 1985). Cridder, dkk (1983) mengatakan bahwa dengan memusatkan perhatian pada aspek yang positif dari suatu keadaan atau situasi yang sedang dihadapi akan membantu individu untuk menghadapi situasi yang mengancam atau menimbulkan stress sehingga dia mampu mereaksi segala peristiwa yang terjadi secara positif.

Keyakinan dan pandangan positif menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting, dan perlu digunakan sebagai pedoman hidup dan menyelesaikan problem sehari-hari. Sehingga cobalah untuk menjadi seseorang yang positif. Tanamkan pada diri anda bahwa anda dapat mengatasi segala sesuatu dengan baik daripada hanya memikirkan betapa buruknya segala sesuatu yang terjadi. Stres sebenarnya dapat membantu ingatan, terutama pada ingatan jangka pendek dan tidak terlalu kompleks. Stress dapat meningkatkan glukosa yang menuju otak yang memberikan energi lebih pada neuron. Hal ini, sebaliknya meningkatkan pembentukan dan pengembalian ingatan.

Dengan demikian, stres dapat bermanfaat bagi kita dan bisa dijadikan sebagai “teman” jika kita mampu menghadapi secara positif.

 

IV. Kesimpulan

Berfikir positif sebagai bagian dari psikologi positif dapat dijadikan tindakan preventif sebelum individu mempunyai gangguan baik emosi maupun kognisi, khususnya gangguan stres.  Dengan berfikir positif dan memiliki emosi yang positif , maka kita menghindar dari emosi negatif yang membawa dampak tidak baik bagi fisik maupun psikologis.

 

Daftar Referensi

www.all-about.stress.com

www.indofamilyhealth.com

www.SuccessConsciousness.com tentang “positive thinking your key to success.

www.wanguba.com tentang “efek berfikir positif”. 08 April 2009

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: